wacana

Wacana merupakan cetusan-cetusan diskursif yang bersifat lebih meluas, bisa berupa resensi/tinjauan buku arsitektur ataupun non-arsitektur , bisa berupa “celetukan” atau bahasan tentang apa pun. Salah satu wacana yang dilontarkan seperti di bawah ini. Untuk membuka wacana-wacana yang lain, silakan klik kategori wacana di kolom kanan halaman blog ini.

Martabak San Fransisco;

Catatan Seorang Praktisi

oleh: Edwin Nafarin

Principal di dpavilion architects

Martabak, kata orang, berasal dari India. Lalu makanan itu datang ke negeri kita dan akhirnya menjadi makanan sehari-hari kita. Martabak menjadi sesuatu yang mengakar dan tidak asing lagi, menjadi bagian dari makanan kita. Tetapi ketika kemarin saya jalan-jalan di sekitar jalan Mayjen Sungkono, saya melihat ada warung martabak di pinggir jalan dengan nama yang menyolok: “Martabak San Fransisco”. Bagaimana martabak yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita, tiba-tiba saja mendapat merk “San Fransisco”, yang mana San Fransisco itu sendiri letaknya sangat jauh dari Surabaya.

Dari kacamata saya sebagai praktisi arsitektur, “Martabak San Fransisco” mungkin merupakan perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan keadaan Surabaya saat ini. Martabak, merupakan makanan dengan berbagai bahan yang berbeda-beda yang kemudian digabungkan dan disatukan sebagai martabak. Lalu bagaimana dengan tambahan nama San Fransisco? Martabak itu memang menjadi agak janggal dan sedikit asing. Tetapi juga makin menarik. Buktinya: Martabak San Fransisco juga laris-manis, banyak orang mencarinya.

Sebagai martabak, Surabaya adalah martabak yang cukup enak. Kota ini terus tumbuh dan berkembang, dan semakin menarik banyak orang untuk tinggal di dalamnya. Martabak yang terus melebar dan menebal, dan makin dikerubungi banyak orang. Makin lama juga makin kompleks strukturnya, sistemnya, masalahnya. Lalu datanglah nama “San Fransisco” yang ikut mempengaruhi perkembangan martabak Surabaya. Dari situ muncullah banyak tanda tanya di sana-sini: seperti apa Surabaya kini dan nanti? Itu tergantung banyak faktor penentu yang terlibat di dalamnya.

perkembangan Surabaya dari masa ke masa

perkembangan Surabaya dari masa ke masa

Faktor Modal, Tak Terbendung?

Membangun sebuah kota memang memerlukan modal finansial yang besar. Kalau kita lihat Uni Emirat Arab (Dubai) dan sekitarnya saat ini yang menjadi kawasan “terpanas” dalam hal perancangan, perencanaan dan konstruksi di dunia, karena ada modal yang sangat besar yang terakumulasi dan sedang “bermain” di sana. Sehingga menjelmalah sebuah wilayah dengan perubahan mencengangkan.

Ibarat orang kaya yang memodali warung martabak, kekuatan modal yang besar memang turut membantu perkembangan kota Surabaya, karena mampu membiayai perencanaan di dalam kota yang lebih baik dan up to date secara terus-menerus. Di pihak lain, kadang-kadang kekuatan modal juga ikut merubah-rubah wajah kota. Karena ada nafsu “unjuk diri” pemilik modal (yang memang kaya) yang mungkin ingin diakui sebagai penguasa tak resmi ruang kota.

Seperti terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu. Pembongkaran Stasiun Semut yang ternyata termasuk suaka bangunan bersejarah membuktikan hal itu. Peraturan yang sudah di-perda-kan bisa tiba-tiba bisa dimentahkan oleh kekuatan modal. Munculnya rumah Klasik Eropa di daerah Darmahusada juga ikut menjadi bukti lainnya. Kekuatan modal seakan bisa berbuat apa saja. Bayangkan, sebuah rumah bergaya Greco-Roman tiba-tiba muncul di Surabaya seakan turun dari langit. Modal memang bisa membeli apa saja, termasuk membeli arsitek? Mungkin saja. Inikah penjelmaan “San Fransisco” itu?

pengaruh modalkah?

pengaruh modalkah?

Faktor Pemerintah Kota, Plin-plan?

Pemerintah kita, baik dari tingkat pusat sampai di daerah setingkat kota Surabaya, masih banyak kebijakannya yang belum jelas, ada yang berbenturan, ada yang tidak nyambung satu sama lain. Rule of game adalah sesuatu yang sangat esensial. Tanpa aturan yang fair dan terkendali, kota akan dipertanyakan masa depannya. Jakarta dalam hal ini, sebuah contoh yang belum tentu bagus. Celakanya, bagus atau tidak Jakarta, Surabaya dengan sukarela mengikutinya.

Dalam konteks Surabaya, termasuk soal lokalisasi, juga PKL yang menjadi elemen marjinal dalam kota Surabaya, karena memang dipinggirkan. Lokalisasi seperti Dolly misalnya, tidak ditutup, karena sebenarnya juga menguntungkan. Tapi juga tidak dilegalkan, karena takut dampak sosial? Mengapa para pihak terkait, seperti para agamawan, preman, perancang kota, ahli etika, pakar sosial dan lain-lain tidak dipertemukan dalam satu meja untuk bertukar pikiran? Mengapa Dolly tidak dijadikan obyek wisata seperti Taman Bungkul saja?

Pemerintah Kota jadi seperti pengelola warung martabak yang membolehkan penjual togel menyewa sebagian ruang warungnya (bisa membikin warung makin ramai), tetapi tidak mau beranggung-jawab jika digerebeg polisi. Kawasan lokalisasi dan PKL yang mobil/bergerak sebenarnya sangat potensial menjadi elemen “unik” dalam kota Surabaya. Anehnya, justru tidak diberdayakan, tetapi malah dibiarkan, dan itu berarti juga dipinggirkan.

mereka warga marginal?

mereka warga marginal?

Faktor Masyarakat, Siapa Mereka?

Masyarakat Surabaya, dalam konteks pertumbuhan kota, kebanyakan masih menjadi penonton saja, menjadi obyek di kotanya sendiri. Kita tidak tahu, apakah memang masyarakat ini dianggap sekedar angka, yang hanya dibutuhkan suaranya ketika pilkada. Lalu dilupakan ketika menyangkut hal-hal penting dalam perkembangan kota yang mereka tempati?

Jangan heran pula kalau mereka (terutama masyarakat pinggiran) membuat langkah yang mereka anggap “benar” sesuai logika mereka. Mereka memakai halte bis dan shelter telepon umum untuk berjualan, menggunakan jalan untuk bermain sepak bola. Jalan tertentu di Surabaya (tentunya semua sudah tahu), dijadikan tempat favorit “perek” menjajakan diri, yang tidak pernah kapok meski dirazia berkali-kali.

Kenapa demikian? karena pemerintah kota Surabaya tidak menyediakan fasilitas umum yang memadai? Karena banyak lahan yang dijual dan dikuasai pemilik modal? Mungkin pemerintah kurang bisa merata dalam membagi-bagi martabak untuk masyarakat. Sepertinya banyak yang belum kebagian, lalu mereka mencari remah-remah yang jatuh ke lantai dan dianggap memalukan. Salahkah mereka? Mereka juga ingin “Martabak San Fransisco” bukan? termasuk bencong-bencong yang kelayapan tengah malam…

masyarakat masih jadi penonton?

masyarakat masih jadi penonton?

Faktor Arsitek, Di mana?

Melihat perkembangan Surabaya yang seperti ini, jadi timbul pertanyaan: di manakah para arsiteknya? tanyakan saja pada penjual Martabak San Fransisko. Kita yakin di Surabaya ini ada ratusan arsitek, juga ada ahli tata kota, ahli permukiman dan perumahan.

Sebandingkah itu dengan wujud kota yang seperti ini? Samakah kota yang dirancang serta direncanakan dengan kota yang tidak direncanakan? Jika memang sama, kita persilahkan para arsitek dan pakar kota untuk berhenti bekerja. Toh hasilnya sama saja. Jika tidak, apa yang harus kita lakukan? ada kejanggalan di depan mata yang menunggu dipecahkan teka-tekinya.

Jadi, pertanyaan kepada arsitek sebagai pembuat Martabak San Fransisco: mengapa anda membuat Martabak San Fransisco? Kok tidak membikin martabak khas Surabaya? Paling tidak, biar ada bedanya Surabaya yang diperhatikan dan Surabaya yang dibiarkan, itu saja.

di mana sang arsitek?

di mana sang arsitek?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.