regol

Regol berisi sebuah renungan, pemikiran ataupun kritik tentang arsitektur dalam lingkup yang lebih luas, sehingga sangat mungkin dihubungkan dengan ranah lain seperti budaya, politik, seni dan lain-lain. Salah satu bahasannya adalah ulasan di bawah ini. Untuk membuka regol-regol yang lain, silakan klik kategori regol di kolom kanan halaman blog ini.

Genesis

oleh: Anas Hidayat

anashiday@yahoo.co.uk

Dalam novel filsafat Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, ada seorang anak perempuan kecil bernama Sophie yang mendapatkan surat dengan pertanyaan berat: Siapakah kamu? Dari manakah dunia berasal? Ya, mencari asal-usul memang menjadi semacam kodrat bagi manusia. Agama-agama Semit mengasalkan dirinya dari Adam dan Hawa yang ada di surga lalu diturunkan Tuhan ke dunia, sebagaimana dikabarkan dalam kitab suci. I La Galigo dari Bugis Kuno mengasalkan manusia dari dunia langit dengan rajanya La Patiganna yang menurunkan Batara Guru sebagai raja di Bumi dan moyang semua manusia.

Di dalam dunia arsitektur, pencarian asal-usul juga merupakan sesuatu yang lumrah, yang memberi arah untuk melacak silsilah arsitektur. Orang-orang Barat mencari akar arsitektur hingga ke Yunani dan Romawi, yang mereka sebut arsitektur Klasik. Arsitektur India atau Cina juga mencari asalnya ke masa ribuan tahun sebelumnya, yang sudah menghasilkan karya-karya masterpiece. Bagaimana dengan arsitektur kita? Jika menengok sejarah, asal-usul arsitektur kita memiliki cerita yang unik.

Secara “patrilineal”, bapak arsitektur kita memang arsitektur Barat. Sebutan Arsitektur dan Arsitek sangat kuat mengindikasikan hal itu. Istilah alternatif untuk Arsitektur seperti Wastu yang dipopulerkan Y.B. Mangunwijaya masih perlu waktu untuk menggeser kata Arsitektur yang demikian mengakar. Arsitektur merupakan ilmu tentang bangun-membangun yang dibawa oleh orang Barat, terutama Belanda, ketika zaman kolonial. Kata Arsitektur sendiri muncul dari bahasa Belanda Architectuur yang lalu kita adaptasi ke bahasa Indonesia.

Kita mungkin terlalu lama berada dalam asuhan “bapak” arsitektur Barat. Dalam jalur ini, kita seakan terus menjadi pengekor, epigon. Kita bergerak menurut “tarian” yang mereka ciptakan. Mereka menjadi Modern, kita ikut Modern. Mereka menjadi Posmodern, kita pun ikut Posmodern. Mereka memaklumkan arsitektur Dekonstruksi, kita juga latah mengamini Dekonstruksi. Kita senantiasa menjadi copycat, tidak salah jika muncul kecurigaan: jangan-jangan penjajahan dalam arsitektur belum usai.

Salah satu jalan untuk “merdeka” dari mental epigon adalah dengan mencari “ibu” arsitektur kita. Kita sebenarnya  punya kekayaan besar arsitektur yang disebut arsitektur Nusantara, tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai arsitektur Gayo hingga arsitektur Asmat, dari arsitektur Minahasa sampai Rote. Secara silsilah, sebenarnya inilah “ibu dari segala ibu” arsitektur yang kita miliki sekarang. Arsitektur Nusantara ini adalah “ibu” yang telah lama bungkam, karena begitu hangar-bingar dan hiruk-pikuknya arsitektur yang kita cangkok dari Barat itu. “Sang ibu” bungkam karena tidak pernah diajak berdialog, dan tugas kita sebenarnya adalah membuat “sang ibu” berbicara kembali. Jika “ibu” arsitektur ini sudah mulai berbicara, kita akan menemukan saripati arsitektural yang muncul dari rahim “ibu”, tempat arsitektur kita berasal.

Di jaman Belanda, arsitek-arsitek patron Hindia-Belanda seperti Berlage, Maclaine Pont dan Thomas Karsten, sudah mulai mencari sumber lokal arsitektur dari arsitektur “ibu” ini. Hal ini bisa dibaca secara lengkap di buku Mencari Arsitektur Sebuah Bangsa, Sebuah Kisah Indonesia karya M. Nanda Widyarta (2007). Tetapi dalam kelanjutannya, upaya tersebut masih berada di pinggiran. Dunia akademis maupun praksis arsitektur kita masih dikangkangi oleh ilmu-ilmu Barat. Kita masih memuja bapak kita dan (agak) mendurhakai ibu kita. Sebuah pertobatan sepertinya diperlukan, dan tak ada kata terlambat.

Dalam cerita pewayangan, Yudhistira pernah ditanya oleh makhluk seram Danawa penunggu telaga yang membunuh keempat saudaranya. “Apa yang tingginya melebihi langit?”, Yudhistira menjawab: “Bapa”. Sang Danawa juga bertanya: “Apa yang bobotnya melebihi bumi?”, Yudhistira menjawab: “Kasih Ibu”. Maka, mencari asal-usul diri dan arsitektur memang harus mikul dhuwur mendhem jero pada bapa dan sekaligus ibu, bukan hanya salah satunya.

Surabaya Post, 23 Nopember 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.