Urban Furniture; in flexibility
Juni 12, 2009 pada 4:43 am | Ditulis dalam Reka | Tinggalkan KomentarArsitek: Margaretha Lukmanto, dpavilion architects

in flexibility, ringkas dan mudah dibongkar-pasang
Kotor dan tidak teratur adalah problem kota Surabaya yang dihadapi saat ini. Salah satu faktor yang menyebabkan kota ini tidak rapi adalah kegiatan pedagang kaki lima. Kita sering melihat kios PKL mangkrak di tepi- tepi jalan jika penjual tidak lagi berjualan. Dinding dan tembok kota “dihiasi” dengan atap terpal PKL. Surabaya menjadi semakin kumuh ditambah lagi sampah-sampah berserakan yang ditinggalkan oleh para PKL tersebut. Sebagai seorang arsitek, bagaimana cara kita menyikapi problem tersebut dengan membuat urban furniture yang fungsional dan memadai untuk memudahkan para pedagang meringkas dan membersihkan kiosnya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat sebuah kios yang fleksibel dan efisien dengan memperhatikan faktor estetika, kebersihan dan menampung seluruh aktifitas penjual dan pembeli. Desain yang dibutuhkan adalah desain yang mempunyai fleksibilitas dengan sistem transformation( dapat dikembang-susutkan), dari bentuk yang kecil dan sederhana dapat dikembangkan menjadi lebih besar dan dapat dikembalikan menjadi kecil lagi. Desain seperti ini dapat mempercantik view kota karena menghindarkan desain kios permanen yang merusak wajah kota, atau kios yang ditinggalkan di pinggir jalan karena pedagang malas membawa pulang.
Desain kios yang baik harus mempunyai beberapa elemen, seperti: tempat display barang atau makanan, tempat sampah, atap peneduh, tempat duduk, meja dan tempat penyimpanan. Desain kios yang mempunyai ukuran awal 1,7mx1,5mx1,2m dapat dikembangkan menjadi 2,8mx1,5mx 2,5m. Ukuran semula kios yang kecil dan ringkas dan ditambah dengan desain roda di bagian bawah, maka sang penjual dapat mendorong dan meringkas kios dengan mudah. Desain kios dengan tempat sampah dapat menghindarkan pembuangan sampah yang sembarangan. Perabot atau makanan dan minuman yang akan dijual disimpan pada tempat penyimpan yang bisa berubah fungsi menjadi tempat duduk dan meja. Demikian juga rak display dapat diatur bentuknya sesuai dengan fungsi kios masing-masing. Kios dengan sistem fleksibilitas ini dapat menjadi kios multifungsi, antara lain untuk berjualan majalah, rokok, minuman dan makanan kecil.
Folding (Lipatan)
Juni 10, 2009 pada 8:24 am | Ditulis dalam Reka | Tinggalkan KomentarArsitek: Kamawardhana Heksa Putra dari dpavilion architects
untuk marketing office Sentul City

dari folding kertas ke folding arsitektural
Desain secara manual, baik dengan sketsa maupun dengan simulasi 3 dimensi menggunakan guntingan kertas mungkin sudah tergeser oleh program desain di komputer yang semakin lama semakin canggih dan sangat membantu arsitek mewujudkan karya rancangannya. Meski demikian, banyak juga yang tetap menggunakan cara tersebut karena masih sangat berguna untuk mengeksplorasi ide-ide, mencari kemungkinan-kemungkinan baru.
Simulasi 3 dimensional ini dibuat untuk mencari ide perancangan marketing office di Sentul City, dengan cara mengolah lipatan (folding) dari media kertas untuk menemukan ide bentuk. Akhirnya, terciptalah sebuah bentukan dengan bidang-bidang yang makin ke pinggir makin meninggi. Rongga-rongga di antara bidang itulah yang menjadi ruang dalamnya. Kemiringan atapnya yang mencuat ke sana-sini menjadi elemen yang menarik secara visual.
Kreatifitas dalam merancang memang tidak muncul dengan dipikirkan atau dilamunkan saja, yang terpenting adalah aksi, berbuat. Dan proses lipatan (folding) yang tersaji ini menjadi bukti nyatanya.

urut-urutan proses folding
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.