<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>T2pavilion's Blog &#187; Regol</title>
	<atom:link href="http://t2pavilion.wordpress.com/category/regol/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://t2pavilion.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2009 06:29:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='t2pavilion.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>T2pavilion's Blog &#187; Regol</title>
		<link>http://t2pavilion.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://t2pavilion.wordpress.com/osd.xml" title="T2pavilion&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://t2pavilion.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Isolasi</title>
		<link>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/10/isolasi/</link>
		<comments>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/10/isolasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 07:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>t2pavilion</dc:creator>
				<category><![CDATA[Regol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://t2pavilion.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Josef Prijotomo jospri@indo.net.id Tidak banyak yang mau menyadari bahwa dasar pertimbangan dalam mambuat bangunan di dunia Barat adalah menghadirkan keterisolasian terhadap iklim yang empat musim. Iklim seperti ini menuntut manusia untuk pertama-tama mampu bertahan hidup di saat musim dingin mendera. Sementara itu, menjelang musim dingin (musim gugur) dan seusai musim dingin (musim semi) iklim yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=28&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Josef Prijotomo</strong></p>
<p><a href="mailto:jospri@indo.net.id">jospri@indo.net.id</a></p>
<p>Tidak banyak yang mau menyadari bahwa dasar pertimbangan dalam mambuat bangunan di dunia Barat adalah menghadirkan keterisolasian terhadap iklim yang empat musim. Iklim seperti ini menuntut manusia untuk pertama-tama mampu bertahan hidup di saat musim dingin mendera. Sementara itu, menjelang musim dingin (musim gugur) dan seusai musim dingin (musim semi) iklim yang bersuhu tidak hangat masih mendominasi, dan karena itu masih belum cukup nyaman untuk berada di hangat atau panasnya suhu di musim panas. Kenyataan iklim ini lalu membentuk daur (siklus) kehidupan yang menuntut untuk bekerja di dalam bangunan saat suhu luar belum hangat; sedangkan pada saat suhu sudah hangat dan panas, kegiatan utamanya adalah tidak bekerja, bersantai menikmati hangat dan panasnya suhu luar (alias tinggal di luar bangunan).</p>
<p>Meski waktu telah menunjuk pada abad 21, dan teknologi telah demikian menyamankan manusianya, dasar pertimbangan di atas masih tidak mengalami perubahan mendasar. Ini berarti bahwa dari masa paling klasik hingga masa yang paling postmodern ini, pertimbangan dalam membuat bangunan adalah untuk dijadikan tempat tinggal dan bekerja, termasuk beribadah dan bersuka-suka melepaskan lelah.</p>
<p>Apa arti dan konsekuensi dari bangunan yang dibuat dengan pertimbangan dasar seperti ini? Pertama-tama dan terutama adalah bangunan harus bisa menjadi tempat yang memberi suhu yang hangat, tak peduli berapa derajat dinginnya suhu luar. Bangunan lalu harus menjadi sebuah isolasi suhu, pemisah suhu dalam dari suhu luar. Bangunan juga harus menjadi perlindungan terhadap ancaman dinginnya suhu yang mematikan.</p>
<p>Bangunan lalu pertama-tama adalah sebuah sungkup yang tak tembus dingin.</p>
<p>Tampang luar yang tidak bersolek juga wajar-wajar saja adanya, mengingat sebagian banyak waktu adalah di dalam bangunan, dan karena itu tak dipandang perlu untuk bersolek di bagian luarnya. Lagipula, dalam jaman dengan laju kendaraan yang cepat itu, nyaris tak ada waktu untuk menikmati pernak-pernik persolekan bagian luar.</p>
<p>Dengan sungkup yang serba tertutup itu, kegelapan di dalam bangunan menjadi tak terhindari. Juga tak terhindari adalah kesempatan untuk menengok dan memperhatikan pemandangan di luar bangunan. Seiring dengan majunya teknologi, dapat saja sungkup itu lalu muncul sebagai sungkup yang serba tembus pandang, yakni dengan memakai kaca sebagai dinding bangunan, bukan tembok (dinding bata).</p>
<p>Dalam jaman di saat kaca lebar belum bisa menjadi dinding bangunan, lubangan yang dilakukan pada sungkup bangunan utamanya adalah untuk memperoleh terang siang hari, dan karena itulah sungkup ini diberi pelubangan sehingga terang matahari dapat menerangi ruangan di dalam bangunan. Ketika kaca telah mampu membidangi seluruh dinding luar, hilanglah isolasi keterpisahan visual antar dalam dan luar bangunan. Meski demikian, bangunan yang merupakan sungkup yang mengisolasi tetap saja bertahan, utamanya isolasi dari suhu dan kelembaban. Keterbukaan daya pandang ternyata tidak mampu menghapuskan keterisolasian manusia yang ada di dalam sungkup bangunan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/t2pavilion.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/t2pavilion.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=28&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/10/isolasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a5b77e5043ce34153160541d445ae71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">t2pavilion</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Box</title>
		<link>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/10/box/</link>
		<comments>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/10/box/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 07:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>t2pavilion</dc:creator>
				<category><![CDATA[Regol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://t2pavilion.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[dikotomi metode desain antara glass box dan black box, sains dan seni, kognisi dan intuisi, perlu sintesiskah?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=25&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: <strong>Anas Hidayat</strong></p>
<p><a href="mailto:anashiday@yahoo.co.uk">anashiday@yahoo.co.uk</a></p>
<p>Dalam bukunya <em>Method in Architecture</em>, Tom Heath memilah cara melihat proses kreatif  arsitek menjadi dua golongan besar. Yang pertama dinamakan <em>glass box</em> (kotak kaca), yakni proses kreatif arsitek yang bisa dirunut urutannya mulai dari ide, konsep awal dan “perjalanannya” hingga ke bentuk jadi. Orang bisa melihat proses kreatif ini seperti di dalam sebuah kotak kaca yang tembus pandang, apa pun yang terjadi di dalamnya bisa diketahui. Yang kedua disebut dengan <em>black box</em> (kotak hitam), ini merupakan proses kreatif arsitek yang tidak terlalu jelas, sepertinya tahu-tahu muncul begitu saja dan sulit diketahui bagaimana berlangsungnya proses kreatif itu secara terstruktur. Dengan kata lain, ini proses kreatif yang misterius.</p>
<p>Di dalam <em>glass box</em>, urutan proses kreatif memang menjadi mirip sains, yakni bisa dipelajari sebagai pengetahuan yang ilmiah. Sebuah proses yang melibatkan cipta, rasa dan karsa manusia bisa (dan kadang-kadang juga dipaksa untuk bisa) dijadikan ilmiah, masuk akal, logis. Pada proses ini, proses kreatif benar-benar menjadi ilmu terukur, yang bisa dipelajari dan ditularkan dari generasi ke generasi, dari orang yang satu ke orang yang lain. Membuat sebuah karya arsitektur sama halnya seperti proses membuat mobil atau pesawat terbang, terutama pada aspek-aspek teknisnya.</p>
<p>Sekolah-sekolah arsitektur kebanyakan dibuka dengan kecenderungan mengandaikan proses kreatif sebagai <em>glass box</em>. Proses kreatif arsitek dianggap sebagai ilmu yang bisa distrukturkan sebagai sains (ilmu pengetahuan). Dalam proses belajar menjadi arsitek, mahasiswa arsitektur diberi bekal tentang proses berpikir yang ilmiah. Ketika membuat skrpsi atau tugas akhir, harus berdasar pada prinsip-prinsip penelitian ilmiah tersebut. Jadi, harus jelas urutannya, jelas teorinya dan jelas alasannya sebagai sebuah pertanggungjawaban ilmiah juga.</p>
<p>Sedangkan di dalam <em>black box</em>, proses kreatif yang terjadi justru lebih mirip proses kreatif seniman (terutama seniman di bidang seni murni), karya yang terjadi tidak begitu jelas langkah-langkahnya. Arsitek atau seniman seperti mendapat ilham dari langit, lalu jadilah sebuah karya, proses di dalamnya menjadi misteri, gelap dan hitam sehingga disamakan dengan <em>black box</em>. Proses kreatif sebenarnya juga memiliki sisi misteri tak terungkap, yang memang tidak bisa dipelajari sebagai ilmu yang terstruktur. Sama seperti kalau kita melihat seniman, proses kreatifnya lebih banyak berpangkal dari intuisi, bukan pada pemikiran yang saintifik.</p>
<p>Intuisi jelas bukan ilmu formal yang bisa diajarkan. Namun, mempertajam rasa di dalam diri untuk memperkuat kemampuan intuitif masih bisa dilakukan. Jadi, di sini yang ditekankan adalah kepekaan, empati dan rasa yang hanya bisa dicari dengan pengalaman diri, tidak bisa hanya dengan membaca buku atau melihat gambar. Mengapa mahasiswa perlu mendatangi karya-karya arsitek yang terkenal misalnya. Karena apa yang ada di dalam <em>glass box </em>mungkin sudah dipelajarinya di bangku kuliah, tetapi “jiwa” karya itu yang muncul dari intuisi <em>black box</em> sang arsitek perlu latihan intensif untuk bisa menangkapnya langsung, sehingga bisa menambah kekuatan intuitif dalam dirinya.</p>
<p>Perbedaan antara <em>glass box</em> dan <em>black box</em> mungkin hampir sama dengan perbedaan antara proses berpikir di otak kiri dan otak kanan manusia. Otak kiri berpikir secara kognitif, sedangkan otak kanan berpikir secara intuitif. Posisi arsitektur yang memang berada di antara sains dan seni, jelas memerlukan kekuatan kedua <em>box</em> tersebut. Yang dibutuhkan barangkali sebuah <em>box</em> yang campuran, yang berada di antara <em>glass box</em> dan <em>black box</em>. Jadi, bisa saja ini justru malah menjadi <em>box</em> yang ketiga: <em>bless box</em>!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/t2pavilion.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/t2pavilion.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=25&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/10/box/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a5b77e5043ce34153160541d445ae71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">t2pavilion</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
