<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>T2pavilion's Blog &#187; Main Issue</title>
	<atom:link href="http://t2pavilion.wordpress.com/category/main-issue/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://t2pavilion.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2009 06:29:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='t2pavilion.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>T2pavilion's Blog &#187; Main Issue</title>
		<link>http://t2pavilion.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://t2pavilion.wordpress.com/osd.xml" title="T2pavilion&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://t2pavilion.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Habitat; Alun-alun yang Menjelma</title>
		<link>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/15/habitat-alun-alun-yang-menjelma/</link>
		<comments>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/15/habitat-alun-alun-yang-menjelma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 06:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>t2pavilion</dc:creator>
				<category><![CDATA[Main Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://t2pavilion.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Arsitek     : Edwin Nafarin (Principal) Kamawardhana Heksa Putra Teks          : Anas Hidayat Habitat, karya dpavilion architects ini, merupakan sebuah landmark yang terletak di tengah-tengah roundabout (bundaran jalan) di kawasan Kahuripan Nirwana Village (KNV) di Sidoarjo dengan lahan seluas 3,3 hektar. Seperti dijelaskan Edwin Nafarin (principal architect) bahwa rencana awalnya adalah membuat sebuah gigantic sculpture sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=51&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arsitek     : Edwin Nafarin (<em>Principal</em>)</strong></p>
<p><strong> Kamawardhana Heksa Putra</strong></p>
<p><strong>Teks          : Anas Hidayat</strong></p>
<p>Habitat, karya <em>dpavilion architects</em> ini, merupakan sebuah <em>landmark </em> yang terletak di tengah-tengah <em>roundabout</em> (bundaran jalan) di kawasan <em>Kahuripan Nirwana Village</em> (KNV) di Sidoarjo dengan lahan seluas 3,3 hektar. Seperti dijelaskan Edwin Nafarin (<em>principal architect</em>) bahwa rencana awalnya adalah membuat sebuah <em>gigantic sculpture</em> sebagai penanda utama kawasan sekaligus sebagai ikon yang memberi nilai lebih pada area sekitarnya. Kemudian muncul gagasan: mengapa tidak dibuat <em>habitable sculpture</em> (<em>sculpture</em> yang bisa didiami) sekalian? yang bisa menjadi tempat berkegiatan bagi masyarakat sekitar, dan bukan sekadar monumen pajangan untuk dilihat belaka.</p>
<p>Kemudian, jadilah Habitat sebagai sebuah <em>sculpture-architecture</em> yang bisa dihuni dan digunakan untuk aktifitas masyarakat, di dalamnya ada fasilitas publik seperti perpustakaan (<em>library</em>), <em>museum, plaza, gallery, </em>serta<em> entertainment and commercial space.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tatanan</strong></p>
<p>Tatanan dari habitat ini didasarkan pada konsep habitat klasik Jawa dalam mengatur dan menata ruang, yakni: <em>keblat papat limo pancer</em>. Di mana ada sebuah lapangan besar yang dikelilingi oleh empat bangunan penting di sekelilingnya. Alun-alun berada di depan Kabupaten/Kraton sebagai halamannya, sedangkan di sebelah barat Alun-alun ada Masjid Besar/Masjid Jami’. Di sisi-sisi yang lain ada Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan juga Penjara. Di tengah alun-alun yang luas itu, biasanya terdapat <em>Waringin Kurung</em> (beringin kembar yang dikurung/dipagari), melambangkan <em>jagad gede</em> (<em>macrocosmos</em>) dan <em>jagad cilik</em> (<em>microcormos</em>) dalam kepercayaan Jawa.</p>
<div id="attachment_52" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-52" title="Picture11b" src="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture11b.jpg?w=300&h=187" alt="Habitat, Alun-alun Vertikal" width="300" height="187" /><p class="wp-caption-text">Habitat, Alun-alun Vertikal</p></div>
<p>Alun-alun, umumnya hampir identik dengan hamparan horisontal berupa lapangan luas dengan rumput hijau yang menutupi permukaannya, dengan bangunan di sekelilingnya yang cenderung horisontal pula. Tapi di Habitat ini, kawasan alun-alun ”dijungkir-balikkan”, dengan dijadikan sebuah bentukan yang vertikal, namun tetap mengambil prinsip <em>keblat papat limo pancer </em>yang diwujudkan dalam massa-massa bangunannya yang berdiri di keempat penjuru mata angin. Dengan demikian, habitat sekaligus menjadi ”alun-alun yang bukan alun-alun”.</p>
<p>Lapangan besar alun-alun dijelmakan menjadi plaza yang terletak di pusat/<em>pancer</em>, letaknya yang strategis di tengah-tengah membuat plaza ini begitu istimewa, menjadi pusat orientasi sekaligus halaman dari keempat massa bangunan di sekelilingnya. Dan keempat massa bangunannya yang berformasi konsentris berupa museum, gallery, <em>entertainment center</em> dan <em>library</em> (perpustakaan), masing-masing dilengkapi dengan <em>commercial spaces</em>. Sedangkan <em>Waringin Kurung</em> di-<em>stretch</em> (ditarik memanjang) menjadi dua buah jembatan (jembatan kaca dan beton) yang bersilangan di tengah-tengah plasa.</p>
<p><strong>Bentuk</strong></p>
<p>Menurut arsitek senior di <em>dpavilion architects</em> Kamawardhana Heksa Putra, ide massa bangunannya diambil dari bunga teratai (<em>lotus, padma</em>). Hal ini mengingat habitat ini berada di tengah <em>buzem</em>/kolam penampungan air di kawasan ini, sehingga ide bunga teratai (yang berhabitat di air) ini menjadi pilihan yang cukup tepat. Bunga teratai (yang akarnya berada di dalam air) terdiri dari daun yang melebar di atas air sebagai pelampung agar tidak tenggelam, dan tangkai bunganya muncul dari antara daun-daun, sedangkan bunganya mekar mengembang di atas daun. Dengan metafora dari teratai tersebut, maka lahirlah empat buah lempeng <em>sculptural</em> sebagai metafor dari mahkota/<em>corolla</em> bunga teratai yang tumbuh menjulang ke atas. Julangannya tidak lurus, melainkan agak melengkung untuk memberi aksen natural (tidak geometrik).</p>
<div id="attachment_53" class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-53" title="Picture11a" src="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture11a.jpg?w=550&h=412" alt="Habitat, Bunga Teratai yang Mekar" width="550" height="412" /><p class="wp-caption-text">Habitat, Bunga Teratai yang Mekar</p></div>
<p>Sebuah bunga, selalu dimulai dari keadaan kuncup (<em>bud</em>), yang kemudian berproses menuju kondisi mekar (<em>blossom</em>) yang merupakan fase sempurna sebuah bunga. Dalam proses tersebut, bunga itu “bergerak” makin lebar, makin besar dan mengembang. Bunga yang mekar sempurna memiliki kualitas <em>dulce et utile</em> (indah dan berguna). Secara estetis indah dilihat dan menarik perhatian, dan secara fungsional sebagai alat reproduksi atau perkembangbiakan demi kelangsungan hidup di masa berikutnya. Jadi, proses <em>blossom</em>/mekarnya teratai di habitat ini sekaligus sebagai multi-lambang, bisa berarti: hidup (<em>life</em>), tumbuh (<em>growth</em>), harapan (<em>hope</em>) serta masa depan (<em>future</em>) yang lebih baik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/t2pavilion.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/t2pavilion.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=51&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/15/habitat-alun-alun-yang-menjelma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a5b77e5043ce34153160541d445ae71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">t2pavilion</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture11b.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Picture11b</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture11a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Picture11a</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cumbuan Contertainer</title>
		<link>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/15/cumbuan-contertainer/</link>
		<comments>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/15/cumbuan-contertainer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 05:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>t2pavilion</dc:creator>
				<category><![CDATA[Main Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://t2pavilion.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Arsitek     : Edwin Nafarin (Principal) Kamawardhana Heksa Putra Kartika Ciputera Fotografer : Ganny Gozaly Teks               : Anas Hidayat Ini cerita tentang Container yang mencumbu Entertainer Ini dongeng tentang Entertainer yang mencumbu Container Dari situ, menjelmalah Contertainer! Contertainer rancangan dpavilion architects ini terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Batu adalah kota yang relatif masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=46&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arsitek     : Edwin Nafarin (<em>Principal</em>)</strong></p>
<p><strong> Kamawardhana Heksa Putra</strong></p>
<p><strong> Kartika Ciputera</strong></p>
<p><strong>Fotografer : Ganny Gozaly</strong></p>
<p><strong>Teks               : Anas Hidayat</strong></p>
<div id="attachment_48" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-48" src="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture10a1.jpg?w=300&h=99" alt="container + entertainer = contertainer" width="300" height="99" /><p class="wp-caption-text">container + entertainer = contertainer</p></div>
<p><strong>Ini cerita tentang <em>Container</em> yang mencumbu <em>Entertainer</em></strong></p>
<p><strong>Ini dongeng tentang <em>Entertainer</em> yang mencumbu <em>Container</em></strong></p>
<p><strong>Dari situ, menjelmalah <em>Contertainer!</em></strong></p>
<p><em>Contertainer</em> rancangan <em>dpavilion architects</em> ini terletak di Kota Batu, Jawa  Timur. Batu adalah kota yang relatif masih baru, dengan suasana agraris yang masih sangat kental. Bisa dianggap sebagai kota bersuasana desa. <em>Contertainer</em> ini merupakan bangunan publik (fasilitas umum), yaitu sebuah poliklinik yang juga sekaligus perpustakaan, di mana masyarakat yang datang tidak dipungut biaya alias gratis.</p>
<p><strong>Ini bukan <em>entertainer</em> <em>kutho</em> yang gemerlapan</strong></p>
<p><strong>Ini <em>entertainer</em> <em>ndeso</em> untuk rakyat kebanyakan</strong></p>
<p><strong>Tapi tidak kalah <em>trendy</em> kan?</strong></p>
<p>Kata <em>entertain</em> yang diartikan sebagai menghibur, biasanya lebih sering dikonotasikan dengan hiburan yang gemerlap di kota-kota besar, katakanlah: diskotik, <em>pub</em>, bioskop, <em>theme park</em>, <em>game zone</em> dan lain-lain, cenderung sebagai hiburan <em>artificial</em>. Tapi di sini, di kota <em>ndeso</em> yang bernama Batu, kata “<em>entertain</em>” tersebut agak “diselewengkan”, ini sebuah hiburan nyata untuk rakyat kecil. Mereka lebih membutuhkan pelayanan kesehatan yang layak dan akses kepada bacaan yang bermutu untuk bisa menjadikan mereka lebih percaya diri sebagai manusia seutuhnya.</p>
<p><strong><em>Container</em> yang sudah makan asam-garam dunia</strong></p>
<p><strong>Dibuat untuk membuka “jendela dunia”</strong></p>
<p><em>Container</em> atau peti kemas yang digunakan dalam perancangan poliklinik dan perpustakaan ini adalah <em>container</em> bekas pakai, yang sudah berkeliling ke berbagai negara di dunia, sehingga sangat cocok bila “disulap” menjadi perpustakaan. Buku sebagai “jendela dunia” diletakkan di dalam <em>container</em> yang sudah berkeliling dunia, sebuah “kolaborasi” konseptual yang cukup tepat, bukan? semoga menjadi penyemangat bagi anak-anak pengguna perpustakaan ini untuk selalu memelihara rasa ingin tahu dan kemauan untuk menjelajah ranah-ranah yang belum dikenal (<em>terra incognita</em>).</p>
<p><strong>Ini <em>contertainer</em> parodi</strong></p>
<p><strong>Wadah barang kok buat mewadahi orang</strong></p>
<p>Juga, <em>contertainer</em> ini menjadi parodi. Di dalam dikotomi antara arsitektur sebagai wadah kegiatan (yang memperhatikan ukuran manusia) dan sebagai ekspresi arsitektural (sebagai curahan rasa seperti halnya seni), di sini justru menampilkan wadah barang untuk mewadahi manusia. Membuat kita boleh sedikit merenung: seberapa pentingkah manusia bagi arsitektur? Seberapa tidak pentingkah manusia bagi arsitektur?</p>
<p><strong><em>Contertainer</em> ini juga sebagai percumbuan</strong></p>
<p><strong>Antara budaya kosmopolis dan agraris</strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_49" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><strong><img class="size-medium wp-image-49" src="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture10b.jpg?w=300&h=99" alt="yang kosmopolis mencumbu yang agraris" width="300" height="99" /></strong><p class="wp-caption-text">yang kosmopolis mencumbu yang agraris</p></div>
<p></strong></p>
<p><em>Contertainer</em> ini menjadi perwujudan arsitektural dari pertemuan antara budaya kosmopolis dan agraris di Batu. <em>Contertainer</em> dibuat dari <em>container</em> sebagai cermin budaya kosmopolis yang terbuka, bebas, lugas yang kemudian “ditanam” secara agraris di atas sebuah <em>site</em> (lahan) yang tetap dalam jangka waktu yang lama. Di samping itu, <em>contertainer</em> ini memperlihatkan bahwa <em>container</em> tidak hanya punya satu fungsi yang tetap, tetapi juga punya guna yang lain yang lebih bervariasi. <em>Container</em> bekas pun ternyata bisa dibuat menjadi sebuah karya arsitektur.</p>
<p><strong><em>Contertainer</em> ini komoditas</strong></p>
<p><strong>Tapi bukan komoditas sembarangan</strong></p>
<p><em>Contertainer</em> ini seperti ingin melawan pendapat bahwa arsitektur harus steril, tabu sebagai komoditas: “Arsitektur sebagai komoditas, mengapa tidak?”. Masalah yang sebenarnya adalah bagaimana membuat arsitektur menjadi komoditas yang bermutu tinggi, bukan komoditas yang bermutu rendah alias murahan. Di masa sekarang ini, komodifikasi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. <em>Contertainer</em> secara terang-terangan memakai <em>container</em> sebagai simbol komoditas, sehingga secara tidak langsung mengatakan: “Ini arsitektur komoditas, tetapi ini komoditas yang bermutu, bukan?”.</p>
<p>Lalu, apakah <em>contertainer</em> ini sah sebagai sebuah arsitektur? Jangan berpikir tentang <em>container</em>, <em>entertainer</em>, budaya, ekonomi dan semacamnya, lihat saja. Lihatlah seakan-akan tubuh anda hanya terdiri dari mata saja, dia akan menunjukkan dirinya dan sekaligus bersembunyi. Arsitektur yang menghindar. Lepas dari benar-salah, baik-buruk ataupun bagus-jelek, <em>contertainer</em> masih tetap atraktif dan provokatif. Mau beli?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/t2pavilion.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/t2pavilion.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=t2pavilion.wordpress.com&#038;blog=7624437&#038;post=46&#038;subd=t2pavilion&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://t2pavilion.wordpress.com/2009/06/15/cumbuan-contertainer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a5b77e5043ce34153160541d445ae71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">t2pavilion</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture10a1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">container + entertainer = contertainer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2pavilion.files.wordpress.com/2009/06/picture10b.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">yang kosmopolis mencumbu yang agraris</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
