Habitat; Alun-alun yang Menjelma
Juni 15, 2009 pukul 6:32 am | Ditulis dalam Main Issue | Tinggalkan komentarArsitek : Edwin Nafarin (Principal)
Kamawardhana Heksa Putra
Teks : Anas Hidayat
Habitat, karya dpavilion architects ini, merupakan sebuah landmark yang terletak di tengah-tengah roundabout (bundaran jalan) di kawasan Kahuripan Nirwana Village (KNV) di Sidoarjo dengan lahan seluas 3,3 hektar. Seperti dijelaskan Edwin Nafarin (principal architect) bahwa rencana awalnya adalah membuat sebuah gigantic sculpture sebagai penanda utama kawasan sekaligus sebagai ikon yang memberi nilai lebih pada area sekitarnya. Kemudian muncul gagasan: mengapa tidak dibuat habitable sculpture (sculpture yang bisa didiami) sekalian? yang bisa menjadi tempat berkegiatan bagi masyarakat sekitar, dan bukan sekadar monumen pajangan untuk dilihat belaka.
Kemudian, jadilah Habitat sebagai sebuah sculpture-architecture yang bisa dihuni dan digunakan untuk aktifitas masyarakat, di dalamnya ada fasilitas publik seperti perpustakaan (library), museum, plaza, gallery, serta entertainment and commercial space.
Tatanan
Tatanan dari habitat ini didasarkan pada konsep habitat klasik Jawa dalam mengatur dan menata ruang, yakni: keblat papat limo pancer. Di mana ada sebuah lapangan besar yang dikelilingi oleh empat bangunan penting di sekelilingnya. Alun-alun berada di depan Kabupaten/Kraton sebagai halamannya, sedangkan di sebelah barat Alun-alun ada Masjid Besar/Masjid Jami’. Di sisi-sisi yang lain ada Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan juga Penjara. Di tengah alun-alun yang luas itu, biasanya terdapat Waringin Kurung (beringin kembar yang dikurung/dipagari), melambangkan jagad gede (macrocosmos) dan jagad cilik (microcormos) dalam kepercayaan Jawa.

Habitat, Alun-alun Vertikal
Alun-alun, umumnya hampir identik dengan hamparan horisontal berupa lapangan luas dengan rumput hijau yang menutupi permukaannya, dengan bangunan di sekelilingnya yang cenderung horisontal pula. Tapi di Habitat ini, kawasan alun-alun ”dijungkir-balikkan”, dengan dijadikan sebuah bentukan yang vertikal, namun tetap mengambil prinsip keblat papat limo pancer yang diwujudkan dalam massa-massa bangunannya yang berdiri di keempat penjuru mata angin. Dengan demikian, habitat sekaligus menjadi ”alun-alun yang bukan alun-alun”.
Lapangan besar alun-alun dijelmakan menjadi plaza yang terletak di pusat/pancer, letaknya yang strategis di tengah-tengah membuat plaza ini begitu istimewa, menjadi pusat orientasi sekaligus halaman dari keempat massa bangunan di sekelilingnya. Dan keempat massa bangunannya yang berformasi konsentris berupa museum, gallery, entertainment center dan library (perpustakaan), masing-masing dilengkapi dengan commercial spaces. Sedangkan Waringin Kurung di-stretch (ditarik memanjang) menjadi dua buah jembatan (jembatan kaca dan beton) yang bersilangan di tengah-tengah plasa.
Bentuk
Menurut arsitek senior di dpavilion architects Kamawardhana Heksa Putra, ide massa bangunannya diambil dari bunga teratai (lotus, padma). Hal ini mengingat habitat ini berada di tengah buzem/kolam penampungan air di kawasan ini, sehingga ide bunga teratai (yang berhabitat di air) ini menjadi pilihan yang cukup tepat. Bunga teratai (yang akarnya berada di dalam air) terdiri dari daun yang melebar di atas air sebagai pelampung agar tidak tenggelam, dan tangkai bunganya muncul dari antara daun-daun, sedangkan bunganya mekar mengembang di atas daun. Dengan metafora dari teratai tersebut, maka lahirlah empat buah lempeng sculptural sebagai metafor dari mahkota/corolla bunga teratai yang tumbuh menjulang ke atas. Julangannya tidak lurus, melainkan agak melengkung untuk memberi aksen natural (tidak geometrik).

Habitat, Bunga Teratai yang Mekar
Sebuah bunga, selalu dimulai dari keadaan kuncup (bud), yang kemudian berproses menuju kondisi mekar (blossom) yang merupakan fase sempurna sebuah bunga. Dalam proses tersebut, bunga itu “bergerak” makin lebar, makin besar dan mengembang. Bunga yang mekar sempurna memiliki kualitas dulce et utile (indah dan berguna). Secara estetis indah dilihat dan menarik perhatian, dan secara fungsional sebagai alat reproduksi atau perkembangbiakan demi kelangsungan hidup di masa berikutnya. Jadi, proses blossom/mekarnya teratai di habitat ini sekaligus sebagai multi-lambang, bisa berarti: hidup (life), tumbuh (growth), harapan (hope) serta masa depan (future) yang lebih baik.
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.