Cumbuan Contertainer

Juni 15, 2009 pukul 5:09 am | Ditulis dalam Main Issue | Tinggalkan komentar

Arsitek     : Edwin Nafarin (Principal)

Kamawardhana Heksa Putra

Kartika Ciputera

Fotografer : Ganny Gozaly

Teks               : Anas Hidayat

container + entertainer = contertainer

container + entertainer = contertainer

Ini cerita tentang Container yang mencumbu Entertainer

Ini dongeng tentang Entertainer yang mencumbu Container

Dari situ, menjelmalah Contertainer!

Contertainer rancangan dpavilion architects ini terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Batu adalah kota yang relatif masih baru, dengan suasana agraris yang masih sangat kental. Bisa dianggap sebagai kota bersuasana desa. Contertainer ini merupakan bangunan publik (fasilitas umum), yaitu sebuah poliklinik yang juga sekaligus perpustakaan, di mana masyarakat yang datang tidak dipungut biaya alias gratis.

Ini bukan entertainer kutho yang gemerlapan

Ini entertainer ndeso untuk rakyat kebanyakan

Tapi tidak kalah trendy kan?

Kata entertain yang diartikan sebagai menghibur, biasanya lebih sering dikonotasikan dengan hiburan yang gemerlap di kota-kota besar, katakanlah: diskotik, pub, bioskop, theme park, game zone dan lain-lain, cenderung sebagai hiburan artificial. Tapi di sini, di kota ndeso yang bernama Batu, kata “entertain” tersebut agak “diselewengkan”, ini sebuah hiburan nyata untuk rakyat kecil. Mereka lebih membutuhkan pelayanan kesehatan yang layak dan akses kepada bacaan yang bermutu untuk bisa menjadikan mereka lebih percaya diri sebagai manusia seutuhnya.

Container yang sudah makan asam-garam dunia

Dibuat untuk membuka “jendela dunia”

Container atau peti kemas yang digunakan dalam perancangan poliklinik dan perpustakaan ini adalah container bekas pakai, yang sudah berkeliling ke berbagai negara di dunia, sehingga sangat cocok bila “disulap” menjadi perpustakaan. Buku sebagai “jendela dunia” diletakkan di dalam container yang sudah berkeliling dunia, sebuah “kolaborasi” konseptual yang cukup tepat, bukan? semoga menjadi penyemangat bagi anak-anak pengguna perpustakaan ini untuk selalu memelihara rasa ingin tahu dan kemauan untuk menjelajah ranah-ranah yang belum dikenal (terra incognita).

Ini contertainer parodi

Wadah barang kok buat mewadahi orang

Juga, contertainer ini menjadi parodi. Di dalam dikotomi antara arsitektur sebagai wadah kegiatan (yang memperhatikan ukuran manusia) dan sebagai ekspresi arsitektural (sebagai curahan rasa seperti halnya seni), di sini justru menampilkan wadah barang untuk mewadahi manusia. Membuat kita boleh sedikit merenung: seberapa pentingkah manusia bagi arsitektur? Seberapa tidak pentingkah manusia bagi arsitektur?

Contertainer ini juga sebagai percumbuan

Antara budaya kosmopolis dan agraris

yang kosmopolis mencumbu yang agraris

yang kosmopolis mencumbu yang agraris

Contertainer ini menjadi perwujudan arsitektural dari pertemuan antara budaya kosmopolis dan agraris di Batu. Contertainer dibuat dari container sebagai cermin budaya kosmopolis yang terbuka, bebas, lugas yang kemudian “ditanam” secara agraris di atas sebuah site (lahan) yang tetap dalam jangka waktu yang lama. Di samping itu, contertainer ini memperlihatkan bahwa container tidak hanya punya satu fungsi yang tetap, tetapi juga punya guna yang lain yang lebih bervariasi. Container bekas pun ternyata bisa dibuat menjadi sebuah karya arsitektur.

Contertainer ini komoditas

Tapi bukan komoditas sembarangan

Contertainer ini seperti ingin melawan pendapat bahwa arsitektur harus steril, tabu sebagai komoditas: “Arsitektur sebagai komoditas, mengapa tidak?”. Masalah yang sebenarnya adalah bagaimana membuat arsitektur menjadi komoditas yang bermutu tinggi, bukan komoditas yang bermutu rendah alias murahan. Di masa sekarang ini, komodifikasi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Contertainer secara terang-terangan memakai container sebagai simbol komoditas, sehingga secara tidak langsung mengatakan: “Ini arsitektur komoditas, tetapi ini komoditas yang bermutu, bukan?”.

Lalu, apakah contertainer ini sah sebagai sebuah arsitektur? Jangan berpikir tentang container, entertainer, budaya, ekonomi dan semacamnya, lihat saja. Lihatlah seakan-akan tubuh anda hanya terdiri dari mata saja, dia akan menunjukkan dirinya dan sekaligus bersembunyi. Arsitektur yang menghindar. Lepas dari benar-salah, baik-buruk ataupun bagus-jelek, contertainer masih tetap atraktif dan provokatif. Mau beli?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.