Isolasi
Juni 10, 2009 pukul 7:32 am | Ditulis dalam Regol | Tinggalkan komentarJosef Prijotomo
Tidak banyak yang mau menyadari bahwa dasar pertimbangan dalam mambuat bangunan di dunia Barat adalah menghadirkan keterisolasian terhadap iklim yang empat musim. Iklim seperti ini menuntut manusia untuk pertama-tama mampu bertahan hidup di saat musim dingin mendera. Sementara itu, menjelang musim dingin (musim gugur) dan seusai musim dingin (musim semi) iklim yang bersuhu tidak hangat masih mendominasi, dan karena itu masih belum cukup nyaman untuk berada di hangat atau panasnya suhu di musim panas. Kenyataan iklim ini lalu membentuk daur (siklus) kehidupan yang menuntut untuk bekerja di dalam bangunan saat suhu luar belum hangat; sedangkan pada saat suhu sudah hangat dan panas, kegiatan utamanya adalah tidak bekerja, bersantai menikmati hangat dan panasnya suhu luar (alias tinggal di luar bangunan).
Meski waktu telah menunjuk pada abad 21, dan teknologi telah demikian menyamankan manusianya, dasar pertimbangan di atas masih tidak mengalami perubahan mendasar. Ini berarti bahwa dari masa paling klasik hingga masa yang paling postmodern ini, pertimbangan dalam membuat bangunan adalah untuk dijadikan tempat tinggal dan bekerja, termasuk beribadah dan bersuka-suka melepaskan lelah.
Apa arti dan konsekuensi dari bangunan yang dibuat dengan pertimbangan dasar seperti ini? Pertama-tama dan terutama adalah bangunan harus bisa menjadi tempat yang memberi suhu yang hangat, tak peduli berapa derajat dinginnya suhu luar. Bangunan lalu harus menjadi sebuah isolasi suhu, pemisah suhu dalam dari suhu luar. Bangunan juga harus menjadi perlindungan terhadap ancaman dinginnya suhu yang mematikan.
Bangunan lalu pertama-tama adalah sebuah sungkup yang tak tembus dingin.
Tampang luar yang tidak bersolek juga wajar-wajar saja adanya, mengingat sebagian banyak waktu adalah di dalam bangunan, dan karena itu tak dipandang perlu untuk bersolek di bagian luarnya. Lagipula, dalam jaman dengan laju kendaraan yang cepat itu, nyaris tak ada waktu untuk menikmati pernak-pernik persolekan bagian luar.
Dengan sungkup yang serba tertutup itu, kegelapan di dalam bangunan menjadi tak terhindari. Juga tak terhindari adalah kesempatan untuk menengok dan memperhatikan pemandangan di luar bangunan. Seiring dengan majunya teknologi, dapat saja sungkup itu lalu muncul sebagai sungkup yang serba tembus pandang, yakni dengan memakai kaca sebagai dinding bangunan, bukan tembok (dinding bata).
Dalam jaman di saat kaca lebar belum bisa menjadi dinding bangunan, lubangan yang dilakukan pada sungkup bangunan utamanya adalah untuk memperoleh terang siang hari, dan karena itulah sungkup ini diberi pelubangan sehingga terang matahari dapat menerangi ruangan di dalam bangunan. Ketika kaca telah mampu membidangi seluruh dinding luar, hilanglah isolasi keterpisahan visual antar dalam dan luar bangunan. Meski demikian, bangunan yang merupakan sungkup yang mengisolasi tetap saja bertahan, utamanya isolasi dari suhu dan kelembaban. Keterbukaan daya pandang ternyata tidak mampu menghapuskan keterisolasian manusia yang ada di dalam sungkup bangunan.
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.