Box

Juni 10, 2009 pukul 7:15 am | Ditulis dalam Regol | Tinggalkan komentar

oleh: Anas Hidayat

anashiday@yahoo.co.uk

Dalam bukunya Method in Architecture, Tom Heath memilah cara melihat proses kreatif  arsitek menjadi dua golongan besar. Yang pertama dinamakan glass box (kotak kaca), yakni proses kreatif arsitek yang bisa dirunut urutannya mulai dari ide, konsep awal dan “perjalanannya” hingga ke bentuk jadi. Orang bisa melihat proses kreatif ini seperti di dalam sebuah kotak kaca yang tembus pandang, apa pun yang terjadi di dalamnya bisa diketahui. Yang kedua disebut dengan black box (kotak hitam), ini merupakan proses kreatif arsitek yang tidak terlalu jelas, sepertinya tahu-tahu muncul begitu saja dan sulit diketahui bagaimana berlangsungnya proses kreatif itu secara terstruktur. Dengan kata lain, ini proses kreatif yang misterius.

Di dalam glass box, urutan proses kreatif memang menjadi mirip sains, yakni bisa dipelajari sebagai pengetahuan yang ilmiah. Sebuah proses yang melibatkan cipta, rasa dan karsa manusia bisa (dan kadang-kadang juga dipaksa untuk bisa) dijadikan ilmiah, masuk akal, logis. Pada proses ini, proses kreatif benar-benar menjadi ilmu terukur, yang bisa dipelajari dan ditularkan dari generasi ke generasi, dari orang yang satu ke orang yang lain. Membuat sebuah karya arsitektur sama halnya seperti proses membuat mobil atau pesawat terbang, terutama pada aspek-aspek teknisnya.

Sekolah-sekolah arsitektur kebanyakan dibuka dengan kecenderungan mengandaikan proses kreatif sebagai glass box. Proses kreatif arsitek dianggap sebagai ilmu yang bisa distrukturkan sebagai sains (ilmu pengetahuan). Dalam proses belajar menjadi arsitek, mahasiswa arsitektur diberi bekal tentang proses berpikir yang ilmiah. Ketika membuat skrpsi atau tugas akhir, harus berdasar pada prinsip-prinsip penelitian ilmiah tersebut. Jadi, harus jelas urutannya, jelas teorinya dan jelas alasannya sebagai sebuah pertanggungjawaban ilmiah juga.

Sedangkan di dalam black box, proses kreatif yang terjadi justru lebih mirip proses kreatif seniman (terutama seniman di bidang seni murni), karya yang terjadi tidak begitu jelas langkah-langkahnya. Arsitek atau seniman seperti mendapat ilham dari langit, lalu jadilah sebuah karya, proses di dalamnya menjadi misteri, gelap dan hitam sehingga disamakan dengan black box. Proses kreatif sebenarnya juga memiliki sisi misteri tak terungkap, yang memang tidak bisa dipelajari sebagai ilmu yang terstruktur. Sama seperti kalau kita melihat seniman, proses kreatifnya lebih banyak berpangkal dari intuisi, bukan pada pemikiran yang saintifik.

Intuisi jelas bukan ilmu formal yang bisa diajarkan. Namun, mempertajam rasa di dalam diri untuk memperkuat kemampuan intuitif masih bisa dilakukan. Jadi, di sini yang ditekankan adalah kepekaan, empati dan rasa yang hanya bisa dicari dengan pengalaman diri, tidak bisa hanya dengan membaca buku atau melihat gambar. Mengapa mahasiswa perlu mendatangi karya-karya arsitek yang terkenal misalnya. Karena apa yang ada di dalam glass box mungkin sudah dipelajarinya di bangku kuliah, tetapi “jiwa” karya itu yang muncul dari intuisi black box sang arsitek perlu latihan intensif untuk bisa menangkapnya langsung, sehingga bisa menambah kekuatan intuitif dalam dirinya.

Perbedaan antara glass box dan black box mungkin hampir sama dengan perbedaan antara proses berpikir di otak kiri dan otak kanan manusia. Otak kiri berpikir secara kognitif, sedangkan otak kanan berpikir secara intuitif. Posisi arsitektur yang memang berada di antara sains dan seni, jelas memerlukan kekuatan kedua box tersebut. Yang dibutuhkan barangkali sebuah box yang campuran, yang berada di antara glass box dan black box. Jadi, bisa saja ini justru malah menjadi box yang ketiga: bless box!

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.