Gardu, sejak Daendels hingga Reformasi
Juni 17, 2009 pukul 6:25 am | Ditulis dalam Wacana | Tinggalkan komentarKaitkata: abidin kusno, gardu, poskolonial, sejarah
Judul Buku : Penjaga Memori; Gardu di Perkotaan Jawa
Penulis : Abidin Kusno
Penerbit : Ombak, Jogjakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : xv + 154 halaman

Oleh: Anas Hidayat, dpavilion think tank
Hmmm.. gardu. Dalam kehidupan sehari-hari, gardu sangat sering kita jumpai di ujung jalan atau gang, namun jarang sekali kita perhatikan dan cermati, apalagi kita telisik kembali sejarah dan asal-usulnya. Kalau memang ada orang yang menelusuri sejarah gardu, sedemikian pentingkah gardu dalam kehidupan keseharian kita? Jika kita baca uraian Abidin kusno dalam buku ini, jawabannya adalah: ya. Dengan “mata poskolonial” yang jeli sekaligus tajam (mungkin hanya ada beberapa “mata” seperti ini di kalangan arsitektur Indonesia), Abidin mampu mengamati dan mengkaji jejak-rekam gardu di Jawa sejak awal genesis-nya di masa lalu hingga keadaannya yang sekarang. Gardu yang ketika kita lewati kita anggap bukan apa-apa dan mudah kita lupakan karena cuma sekadar pemanis jalan atau pelengkap perempatan, ternyata memiliki sejarah yang ikut mengiringi perkembangan peradaban kota-kota di Jawa selama berabad-abad.
Selama ini, dalam ranah kajian arsitektur, sebagaian besar obyek amatannya selalu berhubungan dengan karya-karya arsitektur masterpiece yang menjulang seperti Menara Petronas di Kuala Lumpur, megah seperti Gedung Putih di Washington DC dan monumental laksana Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istambul). Dibandingkan dengan adikarya yang demikian, gardu sungguh ibarat cuwilan kecil yang tak ada harganya. Sedangkan dalam perkuliahan arsitektur, gardu biasanya hanya menjadi tugas merancang bagi mahasiswa semester 1 atau 2 yang baru mengenal bentuk dan ruang. Ya, gardu memang hampir selalu sederhana, kecil dan kadang-kadang dibuat tidak permanen.
Namun, setelah dikaji secara mendalam oleh Abidin Kusno dalam bukunya ini, gardu ternyata merupakan wujud bangunan yang tidak main-main. Gardu menjadi saksi perkembangan kota-kota di Jawa, serta ikut mengalami evolusi dan revolusi dari jaman ke jaman. Abidin mengawali paparannya tentang gardu dengan melihat kembali fenomena posko PDI-Perjuangan pro-Megawati di tahun 1998. Di tahun itu, ada ribuan posko PDI-Perjuangan didirikan di seluruh kota di Jawa sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru yang mendukung PDI Surjadi. Tidak lupa, posko-posko PDI-Perjuangan itu memasang gambar-gambar Soekarno, semacam antitesis dari sosok Soeharto (yang waktu itu sudah hampir jatuh kekuasaannya). Di era sebelumnya, di jaman Orde Baru pimpinan Soeharto, gardu biasa disebut pos Hansip atau Poskamling (Pos Keamanan Lingkungan) yang sebenarnya digunakan sebagai alat untuk memata-matai, mengontrol dan mendisiplinkan rakyat mulai tingkat nasional sampai ke tingkat RT (Rukun Tetangga).
Kemudian Abidin mundur jauh ke belakang dan menemukan bahwa gardu di Jawa sudah ada sejak sebelum kolonialisme Eropa. Saat itu gardu biasa dijumpai di dekat pintu masuk kediaman bangsawan atau orang terkemuka. Tujuan pembuatan gardu itu untuk menunjukkan kuasa raja sebagai pusat kosmos (jagad besar). Misalnya, sembilan pintu gerbang di Keraton Jogjakarta adalah simbol dari hawa sanga (sembilan lubang nafsu) yang ada pada diri manusia. Selanjutnya, pembentukan citra gardu yang cukup signifikan terjadi pada masa kolonialisme Belanda di jaman Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1805-1811). Daendels memperkenalkan pembagian teritorial dan batas-batas wilayah yang jelas. Dia juga membangun Groote Postweg (Jalan Pos Besar) sepanjang Pulau Jawa dari Anyer sampai Panarukan, yang tiap sembilan kilometer dibangun pos untuk memudahkan lalu-lintas dan pengawasan. Di sinilah muncul istilah gardu (rumah jaga) yang kemungkinan berasal dari bahasa Perancis: garde.
Di jaman pendudukan Jepang, gardu menjadi tempat untuk mengawasi, mendidik dan memobilisasi rakyat (dengan sistem tonarigumi, semacam Rukun Tetangga) agar Jepang bisa menang dalam Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu. Dan di masa revolusi pasca kemerdekaan, gardu dijadikan pos pemeriksaan yang cukup ketat oleh milisi-milisi Indonesia untuk mengidentifikasi orang republiken dan non-republiken. Di samping itu, Abidin juga menyinggung tentang pengalaman masyarakat Tionghoa berkaitan dengan gardu. Sistem keamanan dengan ronda lingkungan (pao tjia) sudah diterapkan etnis Tionghoa di pesisir Jawa sejak abad ke 10. Etnis Tionghoa yang sering mendapat pengalaman kekerasan dalam sejarah perkotaan, membuat gardu sebagai upaya mempertahankan diri.
Penyajian sejarah gardu dengan gaya flashback yang tidak runtut (tidak sesuai urutan waktu) a la Abidin Kusno dalam buku ini memang cukup menarik karena kita bisa tahu dari mana penulis mendapatkan greget pertamanya dalam menulis, jadi semacam urutan prioritas saja yang ditekankan oleh penulis. Akan tetapi, bagi mereka yang terbiasa dengan buku sejarah yang runtut urutan waktunya, hal semacam ini mungkin sedikit mengganggu. Kita harus bisa mengurutkannya sendiri dalam pengertian kita, sehingga gambaran utuhnya tetap bisa tertangkap dengan jelas.
Format buku ini yang tidak terlampau tebal (hanya 150-an halaman) cukup menarik karena lebih merangsang minat baca dibandingkan buku-buku sejarah yang tebal (yang harus dibaca dengan serius pula). Uraiannya yang to the point dan tidak bertele-tele membuatnya gampang untuk dicerna, bahkan oleh mereka yang membaca santai sekali pun. Apalagi dengan adanya tampilan foto-foto unik gardu dari masa lalu yang nostalgik sampai yang kontemporer saat ini, bisa sedikit meringankan penat mata ketika membaca. Buku ini bisa dianggap sebagai buku sejarah arsitektur yang sosiologis sekaligus poskolonial, yang ingin pula menguak sejarah peradaban dan budaya kota-kota di Jawa dari sudut pandang sempalan (alternatif, bukan arus besar).
Gardu, si bangunan mungil di pojok-pojok persimpangan jalan, ternyata juga merupakan sosok “besar” yang ikut menyimpan memori kolektif masyarakat perkotaan di Indonesia, khususnya di Jawa. Sejarah gardu tidak berbeda jauh dengan sejarah hidup manusia, selalu punya banyak sisi, majemuk dan plural. Perannya selalu berubah-ubah seturut dengan dinamika kehidupan kota. Biarkan gardu menentukan masa depannya sendiri, entah peran apa lagi yang dipilihnya nanti. Kita hanya bisa menunggu.
Habitat; Alun-alun yang Menjelma
Juni 15, 2009 pukul 6:32 am | Ditulis dalam Main Issue | Tinggalkan komentarArsitek : Edwin Nafarin (Principal)
Kamawardhana Heksa Putra
Teks : Anas Hidayat
Habitat, karya dpavilion architects ini, merupakan sebuah landmark yang terletak di tengah-tengah roundabout (bundaran jalan) di kawasan Kahuripan Nirwana Village (KNV) di Sidoarjo dengan lahan seluas 3,3 hektar. Seperti dijelaskan Edwin Nafarin (principal architect) bahwa rencana awalnya adalah membuat sebuah gigantic sculpture sebagai penanda utama kawasan sekaligus sebagai ikon yang memberi nilai lebih pada area sekitarnya. Kemudian muncul gagasan: mengapa tidak dibuat habitable sculpture (sculpture yang bisa didiami) sekalian? yang bisa menjadi tempat berkegiatan bagi masyarakat sekitar, dan bukan sekadar monumen pajangan untuk dilihat belaka.
Kemudian, jadilah Habitat sebagai sebuah sculpture-architecture yang bisa dihuni dan digunakan untuk aktifitas masyarakat, di dalamnya ada fasilitas publik seperti perpustakaan (library), museum, plaza, gallery, serta entertainment and commercial space.
Tatanan
Tatanan dari habitat ini didasarkan pada konsep habitat klasik Jawa dalam mengatur dan menata ruang, yakni: keblat papat limo pancer. Di mana ada sebuah lapangan besar yang dikelilingi oleh empat bangunan penting di sekelilingnya. Alun-alun berada di depan Kabupaten/Kraton sebagai halamannya, sedangkan di sebelah barat Alun-alun ada Masjid Besar/Masjid Jami’. Di sisi-sisi yang lain ada Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan juga Penjara. Di tengah alun-alun yang luas itu, biasanya terdapat Waringin Kurung (beringin kembar yang dikurung/dipagari), melambangkan jagad gede (macrocosmos) dan jagad cilik (microcormos) dalam kepercayaan Jawa.

Habitat, Alun-alun Vertikal
Alun-alun, umumnya hampir identik dengan hamparan horisontal berupa lapangan luas dengan rumput hijau yang menutupi permukaannya, dengan bangunan di sekelilingnya yang cenderung horisontal pula. Tapi di Habitat ini, kawasan alun-alun ”dijungkir-balikkan”, dengan dijadikan sebuah bentukan yang vertikal, namun tetap mengambil prinsip keblat papat limo pancer yang diwujudkan dalam massa-massa bangunannya yang berdiri di keempat penjuru mata angin. Dengan demikian, habitat sekaligus menjadi ”alun-alun yang bukan alun-alun”.
Lapangan besar alun-alun dijelmakan menjadi plaza yang terletak di pusat/pancer, letaknya yang strategis di tengah-tengah membuat plaza ini begitu istimewa, menjadi pusat orientasi sekaligus halaman dari keempat massa bangunan di sekelilingnya. Dan keempat massa bangunannya yang berformasi konsentris berupa museum, gallery, entertainment center dan library (perpustakaan), masing-masing dilengkapi dengan commercial spaces. Sedangkan Waringin Kurung di-stretch (ditarik memanjang) menjadi dua buah jembatan (jembatan kaca dan beton) yang bersilangan di tengah-tengah plasa.
Bentuk
Menurut arsitek senior di dpavilion architects Kamawardhana Heksa Putra, ide massa bangunannya diambil dari bunga teratai (lotus, padma). Hal ini mengingat habitat ini berada di tengah buzem/kolam penampungan air di kawasan ini, sehingga ide bunga teratai (yang berhabitat di air) ini menjadi pilihan yang cukup tepat. Bunga teratai (yang akarnya berada di dalam air) terdiri dari daun yang melebar di atas air sebagai pelampung agar tidak tenggelam, dan tangkai bunganya muncul dari antara daun-daun, sedangkan bunganya mekar mengembang di atas daun. Dengan metafora dari teratai tersebut, maka lahirlah empat buah lempeng sculptural sebagai metafor dari mahkota/corolla bunga teratai yang tumbuh menjulang ke atas. Julangannya tidak lurus, melainkan agak melengkung untuk memberi aksen natural (tidak geometrik).

Habitat, Bunga Teratai yang Mekar
Sebuah bunga, selalu dimulai dari keadaan kuncup (bud), yang kemudian berproses menuju kondisi mekar (blossom) yang merupakan fase sempurna sebuah bunga. Dalam proses tersebut, bunga itu “bergerak” makin lebar, makin besar dan mengembang. Bunga yang mekar sempurna memiliki kualitas dulce et utile (indah dan berguna). Secara estetis indah dilihat dan menarik perhatian, dan secara fungsional sebagai alat reproduksi atau perkembangbiakan demi kelangsungan hidup di masa berikutnya. Jadi, proses blossom/mekarnya teratai di habitat ini sekaligus sebagai multi-lambang, bisa berarti: hidup (life), tumbuh (growth), harapan (hope) serta masa depan (future) yang lebih baik.
Cumbuan Contertainer
Juni 15, 2009 pukul 5:09 am | Ditulis dalam Main Issue | Tinggalkan komentarArsitek : Edwin Nafarin (Principal)
Kamawardhana Heksa Putra
Kartika Ciputera
Fotografer : Ganny Gozaly
Teks : Anas Hidayat

container + entertainer = contertainer
Ini cerita tentang Container yang mencumbu Entertainer
Ini dongeng tentang Entertainer yang mencumbu Container
Dari situ, menjelmalah Contertainer!
Contertainer rancangan dpavilion architects ini terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Batu adalah kota yang relatif masih baru, dengan suasana agraris yang masih sangat kental. Bisa dianggap sebagai kota bersuasana desa. Contertainer ini merupakan bangunan publik (fasilitas umum), yaitu sebuah poliklinik yang juga sekaligus perpustakaan, di mana masyarakat yang datang tidak dipungut biaya alias gratis.
Ini bukan entertainer kutho yang gemerlapan
Ini entertainer ndeso untuk rakyat kebanyakan
Tapi tidak kalah trendy kan?
Kata entertain yang diartikan sebagai menghibur, biasanya lebih sering dikonotasikan dengan hiburan yang gemerlap di kota-kota besar, katakanlah: diskotik, pub, bioskop, theme park, game zone dan lain-lain, cenderung sebagai hiburan artificial. Tapi di sini, di kota ndeso yang bernama Batu, kata “entertain” tersebut agak “diselewengkan”, ini sebuah hiburan nyata untuk rakyat kecil. Mereka lebih membutuhkan pelayanan kesehatan yang layak dan akses kepada bacaan yang bermutu untuk bisa menjadikan mereka lebih percaya diri sebagai manusia seutuhnya.
Container yang sudah makan asam-garam dunia
Dibuat untuk membuka “jendela dunia”
Container atau peti kemas yang digunakan dalam perancangan poliklinik dan perpustakaan ini adalah container bekas pakai, yang sudah berkeliling ke berbagai negara di dunia, sehingga sangat cocok bila “disulap” menjadi perpustakaan. Buku sebagai “jendela dunia” diletakkan di dalam container yang sudah berkeliling dunia, sebuah “kolaborasi” konseptual yang cukup tepat, bukan? semoga menjadi penyemangat bagi anak-anak pengguna perpustakaan ini untuk selalu memelihara rasa ingin tahu dan kemauan untuk menjelajah ranah-ranah yang belum dikenal (terra incognita).
Ini contertainer parodi
Wadah barang kok buat mewadahi orang
Juga, contertainer ini menjadi parodi. Di dalam dikotomi antara arsitektur sebagai wadah kegiatan (yang memperhatikan ukuran manusia) dan sebagai ekspresi arsitektural (sebagai curahan rasa seperti halnya seni), di sini justru menampilkan wadah barang untuk mewadahi manusia. Membuat kita boleh sedikit merenung: seberapa pentingkah manusia bagi arsitektur? Seberapa tidak pentingkah manusia bagi arsitektur?
Contertainer ini juga sebagai percumbuan
Antara budaya kosmopolis dan agraris

yang kosmopolis mencumbu yang agraris
Contertainer ini menjadi perwujudan arsitektural dari pertemuan antara budaya kosmopolis dan agraris di Batu. Contertainer dibuat dari container sebagai cermin budaya kosmopolis yang terbuka, bebas, lugas yang kemudian “ditanam” secara agraris di atas sebuah site (lahan) yang tetap dalam jangka waktu yang lama. Di samping itu, contertainer ini memperlihatkan bahwa container tidak hanya punya satu fungsi yang tetap, tetapi juga punya guna yang lain yang lebih bervariasi. Container bekas pun ternyata bisa dibuat menjadi sebuah karya arsitektur.
Contertainer ini komoditas
Tapi bukan komoditas sembarangan
Contertainer ini seperti ingin melawan pendapat bahwa arsitektur harus steril, tabu sebagai komoditas: “Arsitektur sebagai komoditas, mengapa tidak?”. Masalah yang sebenarnya adalah bagaimana membuat arsitektur menjadi komoditas yang bermutu tinggi, bukan komoditas yang bermutu rendah alias murahan. Di masa sekarang ini, komodifikasi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Contertainer secara terang-terangan memakai container sebagai simbol komoditas, sehingga secara tidak langsung mengatakan: “Ini arsitektur komoditas, tetapi ini komoditas yang bermutu, bukan?”.
Lalu, apakah contertainer ini sah sebagai sebuah arsitektur? Jangan berpikir tentang container, entertainer, budaya, ekonomi dan semacamnya, lihat saja. Lihatlah seakan-akan tubuh anda hanya terdiri dari mata saja, dia akan menunjukkan dirinya dan sekaligus bersembunyi. Arsitektur yang menghindar. Lepas dari benar-salah, baik-buruk ataupun bagus-jelek, contertainer masih tetap atraktif dan provokatif. Mau beli?
Urban Furniture; in flexibility
Juni 12, 2009 pukul 4:43 am | Ditulis dalam Reka | Tinggalkan komentarArsitek: Margaretha Lukmanto, dpavilion architects

in flexibility, ringkas dan mudah dibongkar-pasang
Kotor dan tidak teratur adalah problem kota Surabaya yang dihadapi saat ini. Salah satu faktor yang menyebabkan kota ini tidak rapi adalah kegiatan pedagang kaki lima. Kita sering melihat kios PKL mangkrak di tepi- tepi jalan jika penjual tidak lagi berjualan. Dinding dan tembok kota “dihiasi” dengan atap terpal PKL. Surabaya menjadi semakin kumuh ditambah lagi sampah-sampah berserakan yang ditinggalkan oleh para PKL tersebut. Sebagai seorang arsitek, bagaimana cara kita menyikapi problem tersebut dengan membuat urban furniture yang fungsional dan memadai untuk memudahkan para pedagang meringkas dan membersihkan kiosnya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat sebuah kios yang fleksibel dan efisien dengan memperhatikan faktor estetika, kebersihan dan menampung seluruh aktifitas penjual dan pembeli. Desain yang dibutuhkan adalah desain yang mempunyai fleksibilitas dengan sistem transformation( dapat dikembang-susutkan), dari bentuk yang kecil dan sederhana dapat dikembangkan menjadi lebih besar dan dapat dikembalikan menjadi kecil lagi. Desain seperti ini dapat mempercantik view kota karena menghindarkan desain kios permanen yang merusak wajah kota, atau kios yang ditinggalkan di pinggir jalan karena pedagang malas membawa pulang.
Desain kios yang baik harus mempunyai beberapa elemen, seperti: tempat display barang atau makanan, tempat sampah, atap peneduh, tempat duduk, meja dan tempat penyimpanan. Desain kios yang mempunyai ukuran awal 1,7mx1,5mx1,2m dapat dikembangkan menjadi 2,8mx1,5mx 2,5m. Ukuran semula kios yang kecil dan ringkas dan ditambah dengan desain roda di bagian bawah, maka sang penjual dapat mendorong dan meringkas kios dengan mudah. Desain kios dengan tempat sampah dapat menghindarkan pembuangan sampah yang sembarangan. Perabot atau makanan dan minuman yang akan dijual disimpan pada tempat penyimpan yang bisa berubah fungsi menjadi tempat duduk dan meja. Demikian juga rak display dapat diatur bentuknya sesuai dengan fungsi kios masing-masing. Kios dengan sistem fleksibilitas ini dapat menjadi kios multifungsi, antara lain untuk berjualan majalah, rokok, minuman dan makanan kecil.
Folding (Lipatan)
Juni 10, 2009 pukul 8:24 am | Ditulis dalam Reka | Tinggalkan komentarArsitek: Kamawardhana Heksa Putra dari dpavilion architects
untuk marketing office Sentul City

dari folding kertas ke folding arsitektural
Desain secara manual, baik dengan sketsa maupun dengan simulasi 3 dimensi menggunakan guntingan kertas mungkin sudah tergeser oleh program desain di komputer yang semakin lama semakin canggih dan sangat membantu arsitek mewujudkan karya rancangannya. Meski demikian, banyak juga yang tetap menggunakan cara tersebut karena masih sangat berguna untuk mengeksplorasi ide-ide, mencari kemungkinan-kemungkinan baru.
Simulasi 3 dimensional ini dibuat untuk mencari ide perancangan marketing office di Sentul City, dengan cara mengolah lipatan (folding) dari media kertas untuk menemukan ide bentuk. Akhirnya, terciptalah sebuah bentukan dengan bidang-bidang yang makin ke pinggir makin meninggi. Rongga-rongga di antara bidang itulah yang menjadi ruang dalamnya. Kemiringan atapnya yang mencuat ke sana-sini menjadi elemen yang menarik secara visual.
Kreatifitas dalam merancang memang tidak muncul dengan dipikirkan atau dilamunkan saja, yang terpenting adalah aksi, berbuat. Dan proses lipatan (folding) yang tersaji ini menjadi bukti nyatanya.

urut-urutan proses folding
Isolasi
Juni 10, 2009 pukul 7:32 am | Ditulis dalam Regol | Tinggalkan komentarJosef Prijotomo
Tidak banyak yang mau menyadari bahwa dasar pertimbangan dalam mambuat bangunan di dunia Barat adalah menghadirkan keterisolasian terhadap iklim yang empat musim. Iklim seperti ini menuntut manusia untuk pertama-tama mampu bertahan hidup di saat musim dingin mendera. Sementara itu, menjelang musim dingin (musim gugur) dan seusai musim dingin (musim semi) iklim yang bersuhu tidak hangat masih mendominasi, dan karena itu masih belum cukup nyaman untuk berada di hangat atau panasnya suhu di musim panas. Kenyataan iklim ini lalu membentuk daur (siklus) kehidupan yang menuntut untuk bekerja di dalam bangunan saat suhu luar belum hangat; sedangkan pada saat suhu sudah hangat dan panas, kegiatan utamanya adalah tidak bekerja, bersantai menikmati hangat dan panasnya suhu luar (alias tinggal di luar bangunan).
Meski waktu telah menunjuk pada abad 21, dan teknologi telah demikian menyamankan manusianya, dasar pertimbangan di atas masih tidak mengalami perubahan mendasar. Ini berarti bahwa dari masa paling klasik hingga masa yang paling postmodern ini, pertimbangan dalam membuat bangunan adalah untuk dijadikan tempat tinggal dan bekerja, termasuk beribadah dan bersuka-suka melepaskan lelah.
Apa arti dan konsekuensi dari bangunan yang dibuat dengan pertimbangan dasar seperti ini? Pertama-tama dan terutama adalah bangunan harus bisa menjadi tempat yang memberi suhu yang hangat, tak peduli berapa derajat dinginnya suhu luar. Bangunan lalu harus menjadi sebuah isolasi suhu, pemisah suhu dalam dari suhu luar. Bangunan juga harus menjadi perlindungan terhadap ancaman dinginnya suhu yang mematikan.
Bangunan lalu pertama-tama adalah sebuah sungkup yang tak tembus dingin.
Tampang luar yang tidak bersolek juga wajar-wajar saja adanya, mengingat sebagian banyak waktu adalah di dalam bangunan, dan karena itu tak dipandang perlu untuk bersolek di bagian luarnya. Lagipula, dalam jaman dengan laju kendaraan yang cepat itu, nyaris tak ada waktu untuk menikmati pernak-pernik persolekan bagian luar.
Dengan sungkup yang serba tertutup itu, kegelapan di dalam bangunan menjadi tak terhindari. Juga tak terhindari adalah kesempatan untuk menengok dan memperhatikan pemandangan di luar bangunan. Seiring dengan majunya teknologi, dapat saja sungkup itu lalu muncul sebagai sungkup yang serba tembus pandang, yakni dengan memakai kaca sebagai dinding bangunan, bukan tembok (dinding bata).
Dalam jaman di saat kaca lebar belum bisa menjadi dinding bangunan, lubangan yang dilakukan pada sungkup bangunan utamanya adalah untuk memperoleh terang siang hari, dan karena itulah sungkup ini diberi pelubangan sehingga terang matahari dapat menerangi ruangan di dalam bangunan. Ketika kaca telah mampu membidangi seluruh dinding luar, hilanglah isolasi keterpisahan visual antar dalam dan luar bangunan. Meski demikian, bangunan yang merupakan sungkup yang mengisolasi tetap saja bertahan, utamanya isolasi dari suhu dan kelembaban. Keterbukaan daya pandang ternyata tidak mampu menghapuskan keterisolasian manusia yang ada di dalam sungkup bangunan.
Box
Juni 10, 2009 pukul 7:15 am | Ditulis dalam Regol | Tinggalkan komentaroleh: Anas Hidayat
Dalam bukunya Method in Architecture, Tom Heath memilah cara melihat proses kreatif arsitek menjadi dua golongan besar. Yang pertama dinamakan glass box (kotak kaca), yakni proses kreatif arsitek yang bisa dirunut urutannya mulai dari ide, konsep awal dan “perjalanannya” hingga ke bentuk jadi. Orang bisa melihat proses kreatif ini seperti di dalam sebuah kotak kaca yang tembus pandang, apa pun yang terjadi di dalamnya bisa diketahui. Yang kedua disebut dengan black box (kotak hitam), ini merupakan proses kreatif arsitek yang tidak terlalu jelas, sepertinya tahu-tahu muncul begitu saja dan sulit diketahui bagaimana berlangsungnya proses kreatif itu secara terstruktur. Dengan kata lain, ini proses kreatif yang misterius.
Di dalam glass box, urutan proses kreatif memang menjadi mirip sains, yakni bisa dipelajari sebagai pengetahuan yang ilmiah. Sebuah proses yang melibatkan cipta, rasa dan karsa manusia bisa (dan kadang-kadang juga dipaksa untuk bisa) dijadikan ilmiah, masuk akal, logis. Pada proses ini, proses kreatif benar-benar menjadi ilmu terukur, yang bisa dipelajari dan ditularkan dari generasi ke generasi, dari orang yang satu ke orang yang lain. Membuat sebuah karya arsitektur sama halnya seperti proses membuat mobil atau pesawat terbang, terutama pada aspek-aspek teknisnya.
Sekolah-sekolah arsitektur kebanyakan dibuka dengan kecenderungan mengandaikan proses kreatif sebagai glass box. Proses kreatif arsitek dianggap sebagai ilmu yang bisa distrukturkan sebagai sains (ilmu pengetahuan). Dalam proses belajar menjadi arsitek, mahasiswa arsitektur diberi bekal tentang proses berpikir yang ilmiah. Ketika membuat skrpsi atau tugas akhir, harus berdasar pada prinsip-prinsip penelitian ilmiah tersebut. Jadi, harus jelas urutannya, jelas teorinya dan jelas alasannya sebagai sebuah pertanggungjawaban ilmiah juga.
Sedangkan di dalam black box, proses kreatif yang terjadi justru lebih mirip proses kreatif seniman (terutama seniman di bidang seni murni), karya yang terjadi tidak begitu jelas langkah-langkahnya. Arsitek atau seniman seperti mendapat ilham dari langit, lalu jadilah sebuah karya, proses di dalamnya menjadi misteri, gelap dan hitam sehingga disamakan dengan black box. Proses kreatif sebenarnya juga memiliki sisi misteri tak terungkap, yang memang tidak bisa dipelajari sebagai ilmu yang terstruktur. Sama seperti kalau kita melihat seniman, proses kreatifnya lebih banyak berpangkal dari intuisi, bukan pada pemikiran yang saintifik.
Intuisi jelas bukan ilmu formal yang bisa diajarkan. Namun, mempertajam rasa di dalam diri untuk memperkuat kemampuan intuitif masih bisa dilakukan. Jadi, di sini yang ditekankan adalah kepekaan, empati dan rasa yang hanya bisa dicari dengan pengalaman diri, tidak bisa hanya dengan membaca buku atau melihat gambar. Mengapa mahasiswa perlu mendatangi karya-karya arsitek yang terkenal misalnya. Karena apa yang ada di dalam glass box mungkin sudah dipelajarinya di bangku kuliah, tetapi “jiwa” karya itu yang muncul dari intuisi black box sang arsitek perlu latihan intensif untuk bisa menangkapnya langsung, sehingga bisa menambah kekuatan intuitif dalam dirinya.
Perbedaan antara glass box dan black box mungkin hampir sama dengan perbedaan antara proses berpikir di otak kiri dan otak kanan manusia. Otak kiri berpikir secara kognitif, sedangkan otak kanan berpikir secara intuitif. Posisi arsitektur yang memang berada di antara sains dan seni, jelas memerlukan kekuatan kedua box tersebut. Yang dibutuhkan barangkali sebuah box yang campuran, yang berada di antara glass box dan black box. Jadi, bisa saja ini justru malah menjadi box yang ketiga: bless box!
prawacana
Mei 5, 2009 pukul 9:25 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentarini adalah blog yang dikelola oleh think tank dpavilion (dpavilion think tank). dpavilion think tank sendiri merupakan salah satu divisi dpavilion architects yang menangani semua hal yang berkaitan dengan konsep, wacana, pemikiran dan penulisan arsitektural.
dpavilion think tank juga menjadi editor rubrik Wastu di Surabaya Post Minggu. rubrik Wastu adalah rubrik yang membahas tentang arsitektur dan segala aspeknya. isi dari rubrik Wastu tersebut ditampilkan dalam blog ini dan akan selalu di-update setiap minggunya.
di samping itu, blog ini juga menampilkan tulisan-tulisan lain, dan selalu terbuka terhadap komentar untuk didiskusikan atau diperdebatkan lebih lanjut.
terimakasih,
koordinator dpavilion think tank
anas hidayat
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.